Friday, May 22, 2026

Kenapa tidak bercita-cita menjadi guru?

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti seminar leadership yang menggunakan mazhab John C. Maxwell untuk memotivasi semua peserta bagaimana menjadi pemimpin yang hebat dengan panduan 21 Irrefutable Laws of Leadership. Banyak hal yang saya pelajari dalam seminar tersebut dan itu juga memberikan wawasan baru tentang bagaimana kita bersikap dan merubah perspektif kita sebagai seorang pemimpin. Dalam beberapa sesi, peserta diminta untuk membuat presentasi dan menjelaskan hasil diskusi setiap kelompok untuk ditampilkan di hadapan peserta lain.

Hal yang cukup menarik bagi saya adalah ketika pemateri menanyakan kepada seluruh peserta tentang impian mereka karena kebanyakan peserta berprofesi sebagai guru. Pertanyaan yang diberikan cukup sederhana.

"Siapa di antara Bapak Ibu guru di sini yang sejak awal memang bercita-cita menjadi guru?"

Ruangan yang tadinya ramai mendadak senyap.

Saya menoleh ke kanan dan ke kiri. Hampir 200 orang guru berkumpul di ruangan itu. Mulai dari guru TK, SD, SMP, SMA dan juga SMK. Para pendidik yang setiap harinya berdiri di depan kelas, membentuk karakter generasi bangsa. Tapi saat pertanyaan itu dilontarkan...

Tidak satu pun tangan yang terangkat.

Nol. Kosong. Tidak ada.

Saya tertegun. Bukan karena saya mengharapkan jawaban yang berbeda, tapi karena keheningan itu terlalu jujur. Keheningan itu berbicara lebih keras dari seribu kata.

Bukan Pilihan, Tapi Jalan Terakhir

Adegan di atas bukanlah kritik kepada para guru hebat yang hadir saat itu. Justru sebaliknya, itu adalah cermin bagi kita semua, terutama bagi para pembuat kebijakan. Para guru yang hadir adalah orang-orang luar biasa yang tetap bertahan di profesi ini meskipun awalnya bukan karena pilihan.

Mereka adalah bukti bahwa pengabdian bisa tumbuh dari mana saja, termasuk dari ketidaksengajaan.

Tapi persoalannya bukan pada individu guru. Persoalannya adalah pada sistem yang membuat profesi ini tidak lagi menarik bagi generasi muda yang sedang memimpikan masa depannya.

Mengapa menjadi guru bukan lagi pilihan?

Jawabannya pahit dan sistemik: kesejahteraan yang tak kunjung membaik, stigma sosial yang merendahkan, dan kebijakan negara yang seringkali hanya sebatas seremoni tanpa aksi nyata.

Perbandingan Gaji: Jauh Tertinggal di ASEAN

Mari kita bicara dengan angka. Data Jobstreet per Agustus 2025 menunjukkan posisi Indonesia benar-benar memprihatinkan. Gaji guru di Indonesia berada di urutan terbawah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Berikut perbandingannya:

NegaraKisaran Gaji Guru per Bulan (dalam Rupiah)
SingapuraRp66,3 juta - Rp84 juta
Brunei DarussalamRp31,6 juta - Rp50,6 juta
MalaysiaRp10,5 juta - Rp25 juta
ThailandRp9,2 juta - Rp14,9 juta
VietnamRp11,4 juta - Rp16,3 juta
FilipinaRp8,1 juta - Rp8,5 juta
IndonesiaRp3,8 juta - Rp5,5 juta

Sumber: Jobstreet, dikutip berbagai media

Perhatikan: gaji guru di Indonesia masih di bawah Filipina dan Vietnam. Padahal beban kerja guru Indonesia sangat berat, tidak hanya mengajar, tetapi juga dibebani administrasi yang menumpuk. Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, banyak lulusan baru lebih memilih dunia kerja yang menawarkan penghasilan lebih pasti.

Negara-negara yang Menghormati Gurunya

Bandingkan dengan negara seperti Finlandia, yang terkenal dengan sistem pendidikannya yang berkualitas tinggi. Di Finlandia, guru memiliki gaji yang kompetitif, beban kerja yang relatif ringan, dan otonomi yang tinggi dalam menjalankan tugasnya.

Di Singapura dan Korea Selatan, guru justru berasal dari lulusan terbaik karena negara menempatkan pendidikan sebagai sektor strategis. Status sosial guru di negara-negara ini sangat tinggi dan dihormati oleh masyarakat.

Mengapa? Karena negara-negara tersebut paham bahwa kualitas pendidikan tidak akan pernah melebihi kualitas para gurunya. Mereka memperlakukan guru sebagai investasi, bukan beban anggaran.

Di Indonesia, ironisnya, guru sering ditempatkan sebagai simbol moral, bukan subjek keadilan ekonomi. Mereka dirayakan dalam bahasa, tetapi dinegosiasikan dalam kebijakan. Mereka dipuji dalam seremoni, tetapi diabaikan dalam struktur.

Cerita Pahit: Dulu Kita Diekspor, Kini Tertinggal

Ada satu fakta sejarah yang mungkin tidak banyak diketahui generasi muda: dulu, Indonesia pernah menjadi "eksportir" guru ke Malaysia.

Kisah ini bermula pada akhir tahun 1960-an. Saat itu, Malaysia yang masih merintis sistem pendidikannya justru meminta bantuan guru dari Indonesia. Antara tahun 1969 hingga 1972, lebih dari 175 guru Indonesia diutus untuk mengajar di Malaysia. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga ikut menyusun kurikulum, bahkan menjadi fondasi berdirinya universitas teknik negeri jiran.

Bayangkan: Negara tetangga mengakui kualitas guru kita. Mereka memburu guru-guru Indonesia. Bahkan, Malaysia secara langsung melobi pengajar Indonesia agar bersedia dikirim ke negeri itu.

Salah satu yang terkenal adalah Imaduddin Abdulrahim, pengajar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang berkontribusi dalam merancang kurikulum di Technical College Malaysia (yang kemudian menjadi universitas kebangsaan).

Para guru Indonesia yang dikirim ke Malaysia saat itu mendapatkan fasilitas yang memadai seperti rumah, kebutuhan pokok, dan gaji yang mencapai 900 dolar Malaysia. Sebuah jumlah yang sangat fantastis pada zamannya.

Tapi lihat sekarang.

Malaysia sudah berjalan jauh. Universitas-universitas mereka kerap masuk dalam daftar kampus terbaik dunia, dan gaji guru di sana mencapai Rp10,5 juta hingga Rp25 juta per bulan. Sementara kita... masih berdebat tentang nasib guru honorer yang digaji ratusan ribu per bulan.

Kita dulu menjadi "guru" bagi negara tetangga. Kini kita tertinggal. Bahkan di belakang Filipina dan Vietnam.

Kebijakan Pemerintah: Ada Kemajuan, Tapi Jauh dari Cukup

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Pada tahun 2026, pemerintah mulai mengimplementasikan pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) secara bulanan untuk lebih dari 1,2 juta guru ASN dengan anggaran mencapai Rp72,2 triliun. Ini tentu langkah maju.

Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026 juga memberikan kepastian hukum bagi guru non-ASN hingga akhir tahun 2026.

Namun, angka kesejahteraan guru honorer masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak guru yang justru dibayar dengan gaji di bawah UMR. Bahkan, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyebut ada guru yang digaji ratusan ribu per bulan.

Ketika Menteri Keuangan, Sri Mulyani sempat melontarkan pernyataan tentang "apakah seluruh gaji guru dan dosen harus ditanggung oleh negara", publik pun ramai mengkritik. Pertanyaan semacam itu, disadari atau tidak, mengaburkan makna luhur dari profesi sebagai pendidik.

Stigma Sosial: Guru Dipuji, Tapi Tak Dihargai

Selain persoalan gaji, ada masalah yang lebih dalam: stigma sosial.

Di masyarakat kita, guru memang dipuji, tapi seringkali hanya di permukaan. Mereka disebut "pahlawan tanpa tanda jasa", "lentera peradaban", dan sederet julukan mulia lainnya. Tapi apakah penghormatan itu memiliki konsekuensi material?

Profesor Sosiologi Pendidikan dari Stanford University, David Labaree, pernah mengatakan bahwa profesi guru itu "mulia tapi tidak bergengsi" ( noble but not prestigious ). Ini terjadi karena masyarakat mengagumi fungsi sosialnya, tetapi tidak memberi imbalan yang sepadan.

Generasi muda melihat realitas ini. Mereka tahu bahwa menjadi guru berarti penghasilan yang tidak pasti, status yang kurang dihormati, dan beban kerja yang terus bertambah. Akibatnya, semakin sedikit fresh graduate yang berminat menjadi guru.

Inilah paradoks Indonesia Emas 2045: kita ingin melahirkan sumber daya manusia unggul, tetapi justru profesi yang membentuk generasi emas itu tidak diminati.

Penutup: Kapan Tangan-tangan Itu Akan Terangkat?

Saya pulang dari seminar dengan perasaan yang campur aduk. Saya membayangkan kembali ruangan yang sunyi saat pertanyaan itu dilontarkan. Sekitar 200 pasang mata menunduk. Bukan karena malu, saya yakin. Tapi karena mereka sadar: mereka ada di profesi ini bukan karena mimpi, melainkan karena keadaan.

Seorang guru TK yang awalnya ingin jadi perawat. Seorang guru SMP yang terjun ke dunia pendidikan karena tidak diterima di jurusan impiannya. Seorang guru SMK yang mengajar karena itu satu-satunya pekerjaan yang tersedia saat itu.

Mereka tetap hebat. Mereka tetap mengabdi. Mereka tetap berdiri di depan kelas setiap pagi dengan sisa-sisa idealismenya.

Tapi pertanyaan untuk kita semua, terutama para pembuat kebijakan adalah: kapan tangan-tangan itu akan terangkat?

Kapan ada guru yang dengan bangga mengaku bahwa menjadi guru adalah pilihan pertama, bukan jalan terakhir?

Karena selama pertanyaan sederhana itu masih dijawab dengan keheningan, selama itu pula pendidikan kita belum benar-benar merdeka.

Seperti yang ditulis sebuah opini di Kompas.com, "ukuran sebuah bangsa bukan terletak pada seberapa indah ia merayakan kerja dan pendidikan, tetapi pada seberapa adil ia memperlakukan mereka yang hidup di dalamnya".

Kita masih punya pekerjaan besar yang belum selesai.


Sumber:

  • Fajar.co.id. (2025). Gaji Guru di Indonesia Terendah Dibanding 6 Negara ASEAN. 

  • Pikiran Rakyat. (2024). 4 Negara yang Paling Memperhatikan Nasib Guru, Bagaimana di Indonesia? 

  • Republika.co.id. (2018). Mengekspor Guru ke Negeri Jiran. 

  • Radar Madura. (2026). Mimpi Indonesia Emas: Mengapa Fresh Graduate Tak Lagi Melirik Profesi Guru? 

  • RRI.co.id. (2026). Govt Starts Monthly Teacher Allowance Payments in 2026. 

  • Suryamalang.com. (2025). Daftar Gaji Guru 2025 di 6 Negara Tetangga. 

  • IPGCE. (2025). In What Countries Are Teachers Most Respected? 

  • Kompasiana.com. (2025). Dahulu Guru Kita "Diekspor" ke Malaysia, Kini Gajinya Masih Jadi Perdebatan. 

  • Kompas.com. (2026). Guru, Buruh yang Dirayakan tapi Dibiarkan Bertahan. 

Sunday, December 17, 2023

Konsep waktu dalam Al-Qur'an

Di saat saya sedang berdiskusi dengan seorang teman, ia menyatakan bahwa penciptaan alam semesta dalam Al-qur'an tidak sesuai dengan sains karena memerlukan waktu dan proses untuk menciptakan seluruh alam semesta. Jadi penciptaan ini tidak secara instan terjadi dengan ucapan "Kun". 

Memang benar bahwa dalam Al-Qur'an disebutkan ketika Tuhan menciptakan sesuatu firman-Nya, Kun fayakun (كُن فَيَكُونُ) yang dalam bahasa Indonesia artinya "Jadilah, maka terjadilah". Akan tetapi, menurut teman saya argumentasinya bahwa kerangka waktu Tuhan dalam Islam tidak logis karena seolah-olah ketika Tuhan berkata "Jadilah", sesuatu itu tercipta begitu saja tanpa melalui proses apa pun.

Maka saat itu, terjadilah diskusi yang cukup panjang tentang konsep proses dan waktu dalam perspekif manusia dan Tuhan. Saya juga mulai mencari ayat-ayat terkait time framing dalam Al-Qur'an. Apalagi Al-Qur'an mengatakan bahwa Tuhan menciptakan seluruh alam semesta dalam 6 hari. Ayat ini juga menggambarkan ada proses yang terjadi ketika Tuhan menciptakan alam semesta. 

Dalam beberapa penjelasan disebutkan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dalam 6 masa. Kata yang digunakan adalah أَيَّامٍ (ayyam) yang kalau kita terjemahkan bisa berarti "beberapa hari" atau "beberapa masa/periode". Yang perlu digarisbawahi: kata "ayyam" adalah bentuk jamak dari "yaum" (يَوْم). Dalam Al-Qur'an, "yaum" tidak pernah didefinisikan secara absolut sebagai 24 jam. Sebaliknya, Al-Qur'an memberikan setidaknya tiga definisi "yaum" yang berbeda tergantung konteks: (1) satu hari biasa (siang-malam), (2) 1.000 tahun manusia (QS. As-Sajdah 32:5), (3) 50.000 tahun manusia (QS. Al-Ma'arij 70:4). Inilah bukti bahwa "yaum" adalah satuan waktu yang relatif, bukan absolut.

Jadi yang diperdebatkan adalah konsep "Hari" dalam Alqur'an. Sebagaimana yang tertera pada surat QS Hud: 7

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ

"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari," (QS Hud: 7). 

Definisi satu hari dalam kamus bahasa Indonesia adalah waktu dari pagi sampai pagi lagi (yaitu satu edaran bumi pada sumbunya, 24 jam) atau satu kali rotasi bumi pada porosnya. Tetapi definisi ini hanya berlaku jika matahari dan bumi sudah ada. Pada saat penciptaan langit dan bumi, bagaimana mungkin ada "hari" yang diukur dengan rotasi bumi, sementara bumi itu sendiri sedang dalam proses diciptakan? Inilah sebabnya para mufasir klasik seperti Ibnu Katsir dan Al-Thabari menafsirkan "enam ayyam" di sini sebagai enam periode atau fase penciptaan, bukan enam rotasi bumi.

Sedangkan dalam Alquran, hari memiliki definisi yang berbeda tergantung konteks ayat dan kisah yang tertera dalam Al-qur'an. Sebagai contoh, pada surat Al-Ma'arij ayat 4 yang juga mengisahkan tentang berapa lama ibril naik menghadap kepada Allah.

تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ ۝٤

Para malaikat dan Rūḥ (Jibril) naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.  (Q.S. Al-Ma'arij: 4). 

Catatan penting: Ayat ini menunjukkan bahwa "yaum" (sehari) bagi malaikat dan "yaum" bagi manusia memiliki durasi yang sangat berbeda. Ini membuktikan bahwa waktu tidaklah absolut, tetapi relatif terhadap kecepatan dan kerangka acuan pengamat, sebuah konsep yang baru dikenal dalam fisika modern melalui Teori Relativitas Einstein.

Berarti dalam kisah ini, kita mendapatkan definisi baru dari kata يَوْمٍ yang berarti satu hari sama dengan ukuran lima puluh ribu tahun lamanya jika menggunakan perspectif orang-orang yang tinggal di bumi.

Dalam Al-Quran, terdapat beberapa ayat yang memberikan gambaran tentang konsep waktu dalam perspektif Islam. Berikut adalah beberapa ayat yang berkaitan dengan konsep waktu:

Dalam Surat Al-Furqan ayat 62, Allah berfirman:

وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا

Artinya: Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.

Ayat ini mengajarkan bahwa pergantian malam dan siang (yang membentuk konsep "satu hari" versi manusia) adalah ciptaan Allah. Maka konsep "hari" dalam pengertian manusia bersifat lokal dan tidak mengikat Allah.

Dalam ayat diatas, bisa kita simpulkan bahwa dalam konteks waktu satu hari dan satu malam, Allah lah yang menciptakan konsep waktu tersebut, sehingga kita bisa merangkum bahwa Allah yang menciptakan waktu tersebut dan Allah jelas tidak terikat dan diatur oleh waktu.

Terlebih lagi, dalam Surat Albaqoroh ayat 225, ditegaskan bahwa

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعََظِيمُ

"Sesungguhnya Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Maha hidup, kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al-Baqarah: 255)

Ayat ini menggambarkan bahwa Allah adalah Maha Hidup, kekal, dan tidak terbatas oleh waktu. Allah mengetahui segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dan ayat ini menegaskan bahwa Allah bersifat Hayy (Maha Hidup) dan Qayyum (Maha Berdiri Sendiri). Artinya, Allah tidak membutuhkan waktu sebagaimana makhluk membutuhkannya. Waktu adalah ciptaan-Nya, bukan atribut-Nya.

Dan lagi dalam surat QS. Ar-Ra'd: 2

اَللّٰهُ الَّذِيْ رَفَعَ السَّمٰوٰتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَۗ كُلٌّ يَّجْرِيْ لِاَجَلٍ مُّسَمًّىۗ يُدَبِّرُ الْاَمْرَ يُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاۤءِ رَبِّكُمْ تُوْقِنُوْنَ 

"Dia menjadikan matahari dan bulan itu beredar (mengikuti orbitnya) dengan ketentuan (yang pasti). Setiap benda beredar menurut takdir yang ditentukan." (QS. Ar-Ra'd: 2)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menetapkan ketentuan dan takdir bagi setiap benda dan pergerakan di alam semesta, termasuk matahari, bulan, dan benda-benda langit lainnya. Semua hal tersebut berherak atas izin Allah.

Kesimpulannya adalah, Jika Allah yang menetapkan orbit dan kecepatan benda langit, maka Dialah juga yang menetapkan satuan "hari" yang terukur oleh rotasi bumi. Tentu Allah tidak terikat dengan satuan yang Dia ciptakan sendiri.

اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ 

"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran /qadar(dan takaran)." (QS. Al-Qamar: 49)

Kata "qadar" (ukuran) di sini mencakup ukuran waktu. Setiap proses penciptaan memiliki ukuran waktu tertentu yang ditetapkan Allah, baik itu instan (dalam persepsi manusia) maupun miliaran tahun. Ayat ini mengisyaratkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan dan ukuran yang telah ditentukan-Nya.

Konsep waktu dalam Al-Quran menekankan bahwa Allah adalah Pencipta yang Maha Esa dan Maha Mengetahui tentang segala sesuatu. Allah berada di luar dimensi waktu yang kita alami sebagai manusia, dan Dia memiliki kendali penuh atas segala sesuatu yang terjadi dalam alam semesta.

Kembali ke perdebatan awal dengan teman saya. Ia berargumen bahwa karena Al-Qur'an menyebut penciptaan dalam 6 hari, dan "hari" berarti 24 jam, maka penciptaan tidak mungkin memerlukan waktu miliaran tahun seperti yang dikatakan sains. Jawabannya:

  1. "Yaum" dan "ayyam" dalam Al-Qur'an tidak pernah didefinisikan sebagai 24 jam secara mutlak. Buktinya: satu yaum bisa = 1.000 tahun atau 50.000 tahun dalam ayat yang sama.

  2. Pada saat penciptaan, belum ada matahari dan bumi yang berotasi, sehingga mustahil "hari" diukur dengan cara yang kita pahami sekarang.

  3. "Kun fayakun" tidak berarti instan tanpa proses, melainkan perintah untuk memulai proses menuju keberadaan, sebagaimana ditunjukkan dalam QS. Fussilat yang merinci tahapan penciptaan.

  4. Waktu adalah relatif, tergantung kerangka acuan. Ini sudah dibuktikan secara ilmiah oleh Einstein dan justru memperkuat firman Allah dalam QS. Al-Ma'arij: satu yaum bagi malaikat sama dengan 50.000 tahun bagi manusia.

Jadi, tidak ada kontradiksi antara Al-Qur'an dan sains. Al-Qur'an berbicara tentang periode-perode penciptaan (6 ayyam = 6 fase/era), sedangkan sains berbicara tentang durasi waktu dalam hitungan tahun manusia. Keduanya bisa benar karena menggunakan kerangka waktu yang berbeda.

KonteksArti "Yaum"Contoh Ayat
Kehidupan manusia sehari-hariSatu siklus siang-malam (24 jam)QS. Al-Furqan 25:62
Waktu bagi Allah vs manusia1 yaum = 1.000 tahun manusiaQS. As-Sajdah 32:5
Perjalanan malaikat ke langit1 yaum = 50.000 tahun manusiaQS. Al-Ma'arij 70:4
Penciptaan alam semestaSatu periode/fase (durasi tidak ditentukan)QS. Hud 11:7, Fussilat 41:9-12
Hari KiamatSatu periode dahsyat (bukan durasi harfiah)QS. Al-Hajj 22:47

Harap dicatat bahwa ini adalah pemahaman umum tentang konsep waktu dalam Al-Quran. Studi mendalam dan kajian ulama dapat memberikan pemahaman yang lebih rinci dan komprehensif tentang konsep waktu dalam Islam.

Daftar Pustaka

Garuda Kemdikbud. (t.th.). Alam Semesta Menurut Al-Quran. [online] Tersedia di: http://download.garuda.kemdikbud.go.id/ 

Republika Online. (2022). Tafsir Surat Hud Ayat 7 tentang Penciptaan Langit, Bumi dan Arasy. [online] Tersedia di: https://islamdigest.republika.co.id/ 

Republika Online. (2023). Apakah Alam adalah Makhluk Allah yang Lama atau Baru Setelah Manusia? [online] Tersedia di: https://islamdigest.republika.co.id/  

SINDOnews Kalam. (2022). *Maurice Bucaille Kupas 6 Periode Penciptaan Alam Menurut Al-Quran*. [online] Tersedia di: https://kalam.sindonews.com/ 

Okezone Muslim. (t.th.). *Tafsir QS. As-Sajdah Ayat 5*. [online] Tersedia di: https://muslim.okezone.com/alquran/tafsir/

Republika Online (IQRA). (t.th.). *Al-Qur'an Surat Al-Ma'arij Ayat 4 (Terjemahan Indonesia)*. [online] Tersedia di: https://iqra.republika.co.id/alquran/ayat/70/4/ 

Detik.com. (2022). Surah As Sajdah Ayat 5: Tingginya Arsy yang Berjarak Tempuh Ribuan Tahun. [online] Tersedia di: https://www.detik.com/edu/detikpedia/ 

Jurnal UIN Alauddin Makassar (Jurnal Tafsere). (2025). Analisis Waktu dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sains. Nadia Salsabil & Indah Norma Yanti. Vol. 12(2). [online] Tersedia di: https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/tafsere/ 

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). (t.th.). *Naskah Publikasi - Analisis Perbandingan Penafsiran QS. Al-Hajj Ayat 47, QS. As-Sajdah Ayat 5, dan QS. Al-Ma'arij Ayat 4 Menurut Hamka dan Quraish Shihab*. [online] Tersedia di: https://eprints.ums.ac.id/

Jurnal Paradigma (Hamjahdiha). (t.th.). Konsep Waktu dalam Al-Qur'an: Analisis Semantik Kata Ayyām. [online] Tersedia di: https://ejournal.hamjahdiha.org/ 

Your Comment (Facebook or Yahoo)