Friday, May 22, 2026

Kenapa tidak bercita-cita menjadi guru?

Beberapa hari yang lalu, saya mengikuti seminar leadership yang menggunakan mazhab John C. Maxwell untuk memotivasi semua peserta bagaimana menjadi pemimpin yang hebat dengan panduan 21 Irrefutable Laws of Leadership. Banyak hal yang saya pelajari dalam seminar tersebut dan itu juga memberikan wawasan baru tentang bagaimana kita bersikap dan merubah perspektif kita sebagai seorang pemimpin. Dalam beberapa sesi, peserta diminta untuk membuat presentasi dan menjelaskan hasil diskusi setiap kelompok untuk ditampilkan di hadapan peserta lain.

Hal yang cukup menarik bagi saya adalah ketika pemateri menanyakan kepada seluruh peserta tentang impian mereka karena kebanyakan peserta berprofesi sebagai guru. Pertanyaan yang diberikan cukup sederhana.

"Siapa di antara Bapak Ibu guru di sini yang sejak awal memang bercita-cita menjadi guru?"

Ruangan yang tadinya ramai mendadak senyap.

Saya menoleh ke kanan dan ke kiri. Hampir 200 orang guru berkumpul di ruangan itu. Mulai dari guru TK, SD, SMP, SMA dan juga SMK. Para pendidik yang setiap harinya berdiri di depan kelas, membentuk karakter generasi bangsa. Tapi saat pertanyaan itu dilontarkan...

Tidak satu pun tangan yang terangkat.

Nol. Kosong. Tidak ada.

Saya tertegun. Bukan karena saya mengharapkan jawaban yang berbeda, tapi karena keheningan itu terlalu jujur. Keheningan itu berbicara lebih keras dari seribu kata.

Bukan Pilihan, Tapi Jalan Terakhir

Adegan di atas bukanlah kritik kepada para guru hebat yang hadir saat itu. Justru sebaliknya, itu adalah cermin bagi kita semua, terutama bagi para pembuat kebijakan. Para guru yang hadir adalah orang-orang luar biasa yang tetap bertahan di profesi ini meskipun awalnya bukan karena pilihan.

Mereka adalah bukti bahwa pengabdian bisa tumbuh dari mana saja, termasuk dari ketidaksengajaan.

Tapi persoalannya bukan pada individu guru. Persoalannya adalah pada sistem yang membuat profesi ini tidak lagi menarik bagi generasi muda yang sedang memimpikan masa depannya.

Mengapa menjadi guru bukan lagi pilihan?

Jawabannya pahit dan sistemik: kesejahteraan yang tak kunjung membaik, stigma sosial yang merendahkan, dan kebijakan negara yang seringkali hanya sebatas seremoni tanpa aksi nyata.

Perbandingan Gaji: Jauh Tertinggal di ASEAN

Mari kita bicara dengan angka. Data Jobstreet per Agustus 2025 menunjukkan posisi Indonesia benar-benar memprihatinkan. Gaji guru di Indonesia berada di urutan terbawah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya.

Berikut perbandingannya:

NegaraKisaran Gaji Guru per Bulan (dalam Rupiah)
SingapuraRp66,3 juta - Rp84 juta
Brunei DarussalamRp31,6 juta - Rp50,6 juta
MalaysiaRp10,5 juta - Rp25 juta
ThailandRp9,2 juta - Rp14,9 juta
VietnamRp11,4 juta - Rp16,3 juta
FilipinaRp8,1 juta - Rp8,5 juta
IndonesiaRp3,8 juta - Rp5,5 juta

Sumber: Jobstreet, dikutip berbagai media

Perhatikan: gaji guru di Indonesia masih di bawah Filipina dan Vietnam. Padahal beban kerja guru Indonesia sangat berat, tidak hanya mengajar, tetapi juga dibebani administrasi yang menumpuk. Di tengah tuntutan hidup yang semakin kompleks, banyak lulusan baru lebih memilih dunia kerja yang menawarkan penghasilan lebih pasti.

Negara-negara yang Menghormati Gurunya

Bandingkan dengan negara seperti Finlandia, yang terkenal dengan sistem pendidikannya yang berkualitas tinggi. Di Finlandia, guru memiliki gaji yang kompetitif, beban kerja yang relatif ringan, dan otonomi yang tinggi dalam menjalankan tugasnya.

Di Singapura dan Korea Selatan, guru justru berasal dari lulusan terbaik karena negara menempatkan pendidikan sebagai sektor strategis. Status sosial guru di negara-negara ini sangat tinggi dan dihormati oleh masyarakat.

Mengapa? Karena negara-negara tersebut paham bahwa kualitas pendidikan tidak akan pernah melebihi kualitas para gurunya. Mereka memperlakukan guru sebagai investasi, bukan beban anggaran.

Di Indonesia, ironisnya, guru sering ditempatkan sebagai simbol moral, bukan subjek keadilan ekonomi. Mereka dirayakan dalam bahasa, tetapi dinegosiasikan dalam kebijakan. Mereka dipuji dalam seremoni, tetapi diabaikan dalam struktur.

Cerita Pahit: Dulu Kita Diekspor, Kini Tertinggal

Ada satu fakta sejarah yang mungkin tidak banyak diketahui generasi muda: dulu, Indonesia pernah menjadi "eksportir" guru ke Malaysia.

Kisah ini bermula pada akhir tahun 1960-an. Saat itu, Malaysia yang masih merintis sistem pendidikannya justru meminta bantuan guru dari Indonesia. Antara tahun 1969 hingga 1972, lebih dari 175 guru Indonesia diutus untuk mengajar di Malaysia. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga ikut menyusun kurikulum, bahkan menjadi fondasi berdirinya universitas teknik negeri jiran.

Bayangkan: Negara tetangga mengakui kualitas guru kita. Mereka memburu guru-guru Indonesia. Bahkan, Malaysia secara langsung melobi pengajar Indonesia agar bersedia dikirim ke negeri itu.

Salah satu yang terkenal adalah Imaduddin Abdulrahim, pengajar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), yang berkontribusi dalam merancang kurikulum di Technical College Malaysia (yang kemudian menjadi universitas kebangsaan).

Para guru Indonesia yang dikirim ke Malaysia saat itu mendapatkan fasilitas yang memadai seperti rumah, kebutuhan pokok, dan gaji yang mencapai 900 dolar Malaysia. Sebuah jumlah yang sangat fantastis pada zamannya.

Tapi lihat sekarang.

Malaysia sudah berjalan jauh. Universitas-universitas mereka kerap masuk dalam daftar kampus terbaik dunia, dan gaji guru di sana mencapai Rp10,5 juta hingga Rp25 juta per bulan. Sementara kita... masih berdebat tentang nasib guru honorer yang digaji ratusan ribu per bulan.

Kita dulu menjadi "guru" bagi negara tetangga. Kini kita tertinggal. Bahkan di belakang Filipina dan Vietnam.

Kebijakan Pemerintah: Ada Kemajuan, Tapi Jauh dari Cukup

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam. Pada tahun 2026, pemerintah mulai mengimplementasikan pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) secara bulanan untuk lebih dari 1,2 juta guru ASN dengan anggaran mencapai Rp72,2 triliun. Ini tentu langkah maju.

Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026 juga memberikan kepastian hukum bagi guru non-ASN hingga akhir tahun 2026.

Namun, angka kesejahteraan guru honorer masih menjadi pekerjaan rumah besar. Banyak guru yang justru dibayar dengan gaji di bawah UMR. Bahkan, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyebut ada guru yang digaji ratusan ribu per bulan.

Ketika Menteri Keuangan, Sri Mulyani sempat melontarkan pernyataan tentang "apakah seluruh gaji guru dan dosen harus ditanggung oleh negara", publik pun ramai mengkritik. Pertanyaan semacam itu, disadari atau tidak, mengaburkan makna luhur dari profesi sebagai pendidik.

Stigma Sosial: Guru Dipuji, Tapi Tak Dihargai

Selain persoalan gaji, ada masalah yang lebih dalam: stigma sosial.

Di masyarakat kita, guru memang dipuji, tapi seringkali hanya di permukaan. Mereka disebut "pahlawan tanpa tanda jasa", "lentera peradaban", dan sederet julukan mulia lainnya. Tapi apakah penghormatan itu memiliki konsekuensi material?

Profesor Sosiologi Pendidikan dari Stanford University, David Labaree, pernah mengatakan bahwa profesi guru itu "mulia tapi tidak bergengsi" ( noble but not prestigious ). Ini terjadi karena masyarakat mengagumi fungsi sosialnya, tetapi tidak memberi imbalan yang sepadan.

Generasi muda melihat realitas ini. Mereka tahu bahwa menjadi guru berarti penghasilan yang tidak pasti, status yang kurang dihormati, dan beban kerja yang terus bertambah. Akibatnya, semakin sedikit fresh graduate yang berminat menjadi guru.

Inilah paradoks Indonesia Emas 2045: kita ingin melahirkan sumber daya manusia unggul, tetapi justru profesi yang membentuk generasi emas itu tidak diminati.

Penutup: Kapan Tangan-tangan Itu Akan Terangkat?

Saya pulang dari seminar dengan perasaan yang campur aduk. Saya membayangkan kembali ruangan yang sunyi saat pertanyaan itu dilontarkan. Sekitar 200 pasang mata menunduk. Bukan karena malu, saya yakin. Tapi karena mereka sadar: mereka ada di profesi ini bukan karena mimpi, melainkan karena keadaan.

Seorang guru TK yang awalnya ingin jadi perawat. Seorang guru SMP yang terjun ke dunia pendidikan karena tidak diterima di jurusan impiannya. Seorang guru SMK yang mengajar karena itu satu-satunya pekerjaan yang tersedia saat itu.

Mereka tetap hebat. Mereka tetap mengabdi. Mereka tetap berdiri di depan kelas setiap pagi dengan sisa-sisa idealismenya.

Tapi pertanyaan untuk kita semua, terutama para pembuat kebijakan adalah: kapan tangan-tangan itu akan terangkat?

Kapan ada guru yang dengan bangga mengaku bahwa menjadi guru adalah pilihan pertama, bukan jalan terakhir?

Karena selama pertanyaan sederhana itu masih dijawab dengan keheningan, selama itu pula pendidikan kita belum benar-benar merdeka.

Seperti yang ditulis sebuah opini di Kompas.com, "ukuran sebuah bangsa bukan terletak pada seberapa indah ia merayakan kerja dan pendidikan, tetapi pada seberapa adil ia memperlakukan mereka yang hidup di dalamnya".

Kita masih punya pekerjaan besar yang belum selesai.


Sumber:

  • Fajar.co.id. (2025). Gaji Guru di Indonesia Terendah Dibanding 6 Negara ASEAN. 

  • Pikiran Rakyat. (2024). 4 Negara yang Paling Memperhatikan Nasib Guru, Bagaimana di Indonesia? 

  • Republika.co.id. (2018). Mengekspor Guru ke Negeri Jiran. 

  • Radar Madura. (2026). Mimpi Indonesia Emas: Mengapa Fresh Graduate Tak Lagi Melirik Profesi Guru? 

  • RRI.co.id. (2026). Govt Starts Monthly Teacher Allowance Payments in 2026. 

  • Suryamalang.com. (2025). Daftar Gaji Guru 2025 di 6 Negara Tetangga. 

  • IPGCE. (2025). In What Countries Are Teachers Most Respected? 

  • Kompasiana.com. (2025). Dahulu Guru Kita "Diekspor" ke Malaysia, Kini Gajinya Masih Jadi Perdebatan. 

  • Kompas.com. (2026). Guru, Buruh yang Dirayakan tapi Dibiarkan Bertahan. 

Tuesday, December 12, 2023

Palestina / Palestine di dalam Alkitab / Bible

Begitu banyak perdebatan tentang keberadaan Palestina di Alkitab. Oleh karena itu disini saya mencoba menyajikan data yang bisa dijangkau oleh pembaca melalui berbagai versi dan terjemahan Alkitab yang beredar di seluruh dunia. Di berbagai Alkitab kata "Palestine" atau "Palestina" banyak tertulis dengan berbagai versi. Dalam hal ini saya menggunakan Biblehub.com karena dengan website ini kita bisa membandingkan berbagai macam versi Alkitab dari seluruh dunia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Berikut ini merupakan contoh contohnya.

Di dalam Bible versi "Douay-Rheims Bible" tepatnya dalam kitab Genesis/Kejadian 21:33-34, disebutkan bahwa Abraham ada di Palestina selama beberapa hari. jadi bisa kita simpulkan bahwa Palestina sudah ada sejak zaman Abraham. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kitab Genesis/Kejadian ditulis sekitar tahun 1400 sebelum masehi.


Dan Palestina juga tertera pada kitab lain dari perjanian lama. Tepatnya dalam kitab mazmur tau Psalm 108:9.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bahasa asli Yesus adalah Aramaic. Dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris yang bersumber dari Alkitab/ Bible Aramaic, jelas bahwa kata "Palestine" tertera disana.

Kemudian kata palestina juga digunakan dalam King James Version. Ini bisa dilacak langsung melalui website kingjamesbibleonline.org. Kita bisa melihat dalam kitab Exodus atau kitab Keluaran bahwa kata Palestina tertera dengan jelas di Kitab tersebut.



Source:

Daftar versi dan terjemahan Alkitab dari Wikipedia

Douay-Rheims Bible

Aramaic Bible in Plain English


Sunday, November 12, 2023

Incorrect Question "Siapakah yang menciptakan Tuhan?" atau "Who created God?" Pertanyaan yang salah

Seringkali kita dengar banyak orang mengucapkan kata "kan san cuma bertanya?". Memang benar bahwa bertanya adalah hak setiap orang dan menjawabnya juga merupakan hak orang lain untuk benar benar menjawab atau tidak menjawab tergantung situasi dan kondisi seseorang. Dalam hal ini yang ingin saya garis bawahi bukanlah tentang hak seseorang dalam bertanya, tapi lebih kepada pemahaman seseorang tentang pertanyaan yang ia tanyakan. 

Sebelum bertanya, hendaknya lebih kita menyamakan perspektif terlebih dahulu agar tidak tercipta kerancuan dalam kerangka berfikir. Definisi verbatim dalam kata yang ditanyakan, perlu diperhatikan dengan seksama. Ketika mempertanyakan suatu hal, perlu juga diperhatikan tentang apa definisi verbatim pertanyaan tersebut dengan perspektif lawan bicara agar tercipta komunikasi yang lebih komprehensif. Intinya definisi verbatim suatu pertanyaan harus memiliki pemahaman yang sama antara orang yang bertanya dan orang yang ditanya.

Sehingga dalam hal ini saya menolak pernyataan bahwa "There is no stupid question!" atau "Tidak ada pertanyaan yang salah". Kalimat tersebut memiliki kesalahan yang cukup fatal dan membuat banyak orang berfikir bahwa seseorang bebas menanyakan hal apapun tanpa tahu batasannya. Padahal bisa saja pertanyaan tersebut memiliki variable yang saling kontradiktif sehingga mustahil untuk menjawab pertanyaan tersebut karena dari awal memang pertanyaan tersebut salah.

Bentuk pertanyaan seperti ini kadang sering ditanyakan oleh Atheis yang mungkin baru saja membaca buku karangan Richard Dawkin yang berjudul "God Delusion". Secara pribadi saya pernah ditanyakan hal serupa oleh rekan kerja saya.

Salah satu pertanyaannya adalah "Siapakah yang meciptakan Tuhan?" / Who created God?

Pertanyaan ini bisa saja tidak menjadi pertanyaan yang salah ketika lawan bicara memiliki perspektif yang sama terhadap definisi verbatim tentang ketuhanan. Tapi jelas akan salah total ketika ditanyakan pada orang yang memiliki acuan verbatim yang berbeda. Khususnya dalam hal ini adalah agama Islam. Dalam Islam, Definsi dari Tuhan adalah tidak diciptakan oleh apapun dan keadaan apapun, tidak bergantung kepada apapun untuk tetap ada, sebagaimana yang tertera dalam surat Al-Ikhlash. Sehingga pertanyaan tentang siapa yang mencitakan Tuhan adalah salah besar karena secara definitif Tuhan dalam Islam tidak diciptakan. Jika seseorang mendefinikan bahwa Tuhan itu diciptakan, maka itu bukanlah definisi Islam tentang ketuhanan. Banyak dari Attheist menanyakan pertanyaan ini tanpa sadar bahwa mereka memilki perspektif yang berbeda tentang Ketuhanan dengan orang yang mereka tanyakan. 

Secara jujur, saya menolak pertanyaan seperti ini untuk dijawab karena kesalahan perspektif penanya tentang definisi saya terhadap Tuhan. Yang akan saya luruskan adalah pemahaman mereka dan menyamakan definisi tentang ketuhanan. Pernah dalam suatu acara "Unity in Diversity", ada salah seorang guru beragama Buddha yang menanyakan langsung pada saya tentang "Kenapa agama tidak boleh menjadi penghalang dalam bergaul?". Saya secara pribadi tidak setuju dengan pertanyaan tersebut, tapi saya juga penasaran bagaimana respon seorang pemuka agama lain ketika ditayakan hal serupa. Karena pada dasarnya, agama membatasi kita untuk bergaul dengan orang yang memberikan dampak negatif. Banyak aturan yang membatasi seseorang untuk memilih siapa temannya, siapa lingkungannya, pasangannya dan bahkan siapa pemimpinnya. Agama memberikan rekomendasi dengan siapa seharusnya kita bergaul. Sehingga ketika seseorang menanyakan sesuatu, sebenarnya secara tidak langsung mereka memberikan statement dari pertanyaan tersebut. Dan menjawab pertanyaan tersebut merupakan seuatu kesalahan hingga pertanyaan tersebut diluruskan.



Apakah gambar diatas angka 9 atau 6. Sebelum menjawab pertanyaan dengan variable yang kompleks, perlu adanya penyamaan perspektif agar kedua kubu antara orang yang bertanya dan yang menjawab sama sama berada di jalur yang benar. Sama halnya ketika saya bertanya kepada seorang lelaki tentang "Kapan terakhir kali lelaki tersebut menstruasi?". Jelas ini adalah pertayaan yang absurd dan salah karena secara definisi "medis" laki-laki tidak pernah mengalami mentruasi. Ataupun ketika seseorang bertanya kepada orang yang mendukung teori Heliosentris "Kenapa bumi menjadi pusat tatasurya?". Tentunya pertanyaan ini memiliki perspectif keliru karena definisi pendukung Heliosentris dan Geosentris tentang pusat tatasurya sangat bertolak belakang sehingga kita perlu memahami dan bahkan menyamakan perspektif tentang bentuk pertanyaan yang akan diajukan kepada lawan bicara sehingga tercipta komunikasi yang lebih konstruktif.


How do we know each other?

Just For Fun

Jadi guys, gua mau cerita nih awal pertemuan gue sama istri. Saat dipagi yang cerah, tiba tiba gua dapat kabar dari emak gue bahwa ada temennye yang mau minta tolongin gue buat ngajarin komputer buat adiknye yang kuliah. Gue terkejut dong, scara gue masih kelas 1 SMA dan masih imut banget gitu kan. Ga nyangka dah, ada yang minta ajarin sama anak SMA. Tapi wajar juga sih karena biasanya gue selalu nolongin tuh ibu untuk benerin komputernya, trus juga instalin printer barunya. Dulu itu, masih pakai Windows 98. Jadul bangetlah pokoknya karena waktu itu, komputer masih sesuatu yang baru banget. Akhirnya gue pergi tu, ke rumah si ibu, buat ngajar komputer. Sebenarnya ga susah susah banget. Gua cuma ngajarin bagaimana peng-operasian Microsoft Word dan juga Windows Explorer karena pada saat itu, anak kuliah juga udah mulai beralih dari mesin ketik ke komputer.

Jadi gini brader, istri gue itu adalah keponakan dari orang yang lagi gua ajarin komputer. Waktu itu istri gue juga masih kecil banget. Istri gue kelas 4 SD dan gue anak kelas 1 SMA yang lagi imut imutnya. Ketika gue lagi ngajarin komputer, kadang tu cewek (istri gue) lumayan sering mondar mandir di ruang tamu padahal gue lagi ngajarin omnya dia. Yaaa.. wajar kali yaaa, karena memang itu rumah dia atau karena dia memang ga biasa liat cowo ganteng  sliweran di rumah dia. Anyway, gua juga ga pernah kepikiran kalau bakalan nikah sama istri gue yang sekarang karena memang kita ga pernah pacaran, telfonan dan jalan bareng sama sekali. Itu juga sebenarnya harapan gue untuk tidak menikah dengan orang yang gue kenal seperti teman gue atau seumuran sama gue. Gue berdoa supaya dapet yang jauh lebih muda dari pada gue.


Gue tipe anak yang cuma peduli sama dunia gue sendiri, sampe sampe adik gue yang paling bontot ngomong ke gue kalau waktu gue SMA, gue hampir ga pernah komunikasi dengan adik gue, padahal satu rumah, ya cuma beda kamar. Background pendidikan gue itu dari pondok salafi tepatnya di Podok Pesantren Al-Munawwarah. Dari awal gue udah berniat untuk menghindari hubungan dengan lawan jenis apalagi ngejar cewek dan berpacaran, enggak banget deh pokoknya. Dan kalaupun akhirnya gue pacaran, itu bukan karena gue yang ngedeketin, tapi tetap aja bahwa itu adalah murni kesalahan gue. Dulu, gue hobi banget beli majalah Komputer Aktif, Hai, dan Chip. Gue juga bela belain beli kamus komputer skalian biar ngerti dengan istilah tentang dunia komputer. Gue juga sering banget otak atik dan instal ulang komputer gue pakai operating system berbeda bahkan dual OS. Ga lupa juga gue belajar renang sama main gitar dari teman. Gue kumpulin uang jajan sebulan untuk bayarin entrance fee kolam renang untuk 3 orang termasuk gue dan makan bareng setelahnya. Setelah 3 kali pertemuan bareng teman gue, Alhamdulillah gue bisa renang dan diving. Dan untuk belajar gitar, kebetulan gue jurusan bahasa waktu di MAN 2 Model Pekanbaru. waktu itu beberapa guru mata pelajaran ada yang ga masuk sehingga kesempatan itu bisa gue gunakan untuk belajar gitar. Awal tujuannya sih buat menarik perhatian ciwi ciwi, tapi akhirnya cuma buat diri sendiri. Pernah sekali tampil di acara English Day di sekolah, malu banget karena suara gue terlalu merdu. Rasanya gue malu banget kalau inget moment itu.

Kembali ke topik, terlepas dari semua cerita hidup gue yang begitu standar. Gue juga ga begitu idealis dalam hal tertentu dengan keyakinan gue, tentunya ada beberapa cewek ngedekitin gue dan mereka menjadi warna dalam lika liku hidup gue. Keberadaan cewek cewek tersebut dan masalah yang gue hadapi selama ini menjadi pelajaran yang luar biasa dan mendewasan gue secara mental dan spiritual tentang hubungan antara dua insan. Sejujurnya tentu terjadi konflik batin ketika gue menjalani suatu hubungan saat itu. Gue merasa ada hal yang salah dan harus gue hentikan hingga akhirnya setelah melalui perdebatan panjang, gue mengambil keputusan buat menghentikan hubungan tersebut.

Ketika gue beranjak kuliah, gue lagi bayarin lisrik rumah karena disuruh emak. Dan gue ketemu sama emaknya istri gue. Trus doi nanyain ke gue kalau gue udah punya pacar apa belum. Dan gue ga bilang apa apa dan hanya tersenyum. Lanjut emaknya istri gue nanyain kuliah gue dan bagaimana IPK gue, yang kebetulan pada semester itu, IP gue dapat 4 out of 4. Dan kemudian emak istri gue nanyain apakah gue minat sama anaknya. Dan lagi gue hanya tersenyum.

Hingga akhirnya setelah lulus kuliah, gue sempat beberapa kali kerja diberbagai tempat dan pada awal tahun kedua, perusahaan tempat gue bekerja menawarkan untuk mutasi ke daerah Bogor untuk jadi Intruktur TOEFL disana. Awalnya memang gue menolak tapi, emak gue menyarankan untuk mengambil kesempatan tersebut untuk menambah pengalaman dan juga mengasah kemandirian gue untuk hidup sendiri di kota orang. Setelah pindah ke Bogor, ga lama kemudian, mantan murid gue ngehubungin gue, minta ajarin bahasa inggris katanya. Trus dia juga kirim suaranya dia dan foto foto dia waktu liburan ke Jepang karena ga mau kalah sama gue yang juga pernah diundang acara UNESCO ke Jepang. Hingga akhirnya kami dekat banget dan gue juga udah ketemu dan datang ke rumahnya dia, tapi alhamdulillah ga direstui sama orang tua gue karena satu dan lain hal. Sempat gue beragumen tentang hal tersebut, tapi gue tetap menghargai keputusan emak gue dan akhirnya gue fokus untuk kerja dan nabung buat masa depan. Walaupun dia udah telponan ama emak gue, itu ga merubah keputusan emak. Berat memang, tapi gue ga mau menentang keputusan emak sama sekali.

Di lain sisi, emaknya istri gue kaget banget mendapatkan surat undangan dari keluarga gue. Doi pikir gue yang menikah, padahal yang nikah adalah adek gue yang sudah 9 tahun berpacaran dengan kekasih tercintanya. Akhirnya emaknya istri gue lega banget mendengarkan penjelasan tersebut dan berharap anaknya bisa bersanding dengan gue. Udah mulai tuh, doi ngirimin foto-foto istri gue pergi umroh dan melaksanakan ibadah umroh dengan keluarganya disana. Kadang mertua gue juga ngirimin berbagai aktifitas istri ke gue, tapi sebagai seorang akhwat yang taat beragama, tentu saja istri gue spontan negur emaknya karena ngirimin fotonya dia ke cowok yang belum tentu menjadi suaminya di masa depan, tapi gue yakin di lain hal dia juga seneng banget sambil lompat lompat kayaknya. 😆

Setelah beberapa bulan kemudian, keluarga istri gue yang berdomisili di Finlandia datang ke rumah gue di Pekanbaru dan kebetulan gue ada di rumah karena liburan semester. Mereka nanyain apakah bener bahwa gue ga pernah jalan atau komunikasi sama istri gue sama sekali dan gue membenarkan hal tersebut dan segala bentuk komunikasi terjadi adalah antara emak gue dan emak istri gue. Karena memang posisi gue ada di Bogor dan komunikasi melalui handphone tidak terjadi sama sekali. Setelah pertemuan tersebut, bokap gue mendesak gue buat ngelamar istri. Gue langsung shocked. "For real??!!" Jujurly, Gue merasa bahwa gue belum siap financially, mentally, and spiritually. Tapi gue harus sugesti diri bahwa gue siap kalau enggak, gue ga akan nikah nikah. Kadang adakalanya sesuatu itu harus dipaksain. Sebagaimana nasehat emak gue "You'll never know unless you try".

Sebelum akhirnya gue ngelamar istri, banyak drama yang terjadi dikarenakan gue juga deket dengan mantan murid gue sehingga gue memutuskan untuk melakukan sholat istikharah. Jujurly, gua ga tau gimana caranya dapat jawaban dari sholat istikharah yang gue lakukan dan hingga akhirnya gue nonton video ustad Riza Basalamah yang mengatakan bahwa ketika segala urusan kita dimudahkan dengan wanita tersebut, berarti itu adalah jawaban dari sholat kita. Ketika kita sholat istikharah, kita berdoa "Ya Allah, jika memang dia jodohku maka mudahkanlah, jika dia bukan jodohku, jauhkanlah atau persulitlah". Padahal jawabannya udah jelas, hanya saja keinginan hati gue cenderung ke arah yang berlawanan dengan kehendak Tuhan. Astaghfirullah. Dan juga ketika gue baru selesai sholat istikharah, entah kenapa wajah istri seketika muncul, padahal kami enggak komunikasi sama sekali. Jadi gue pikir, itu suatu pertanda buat hidup gue. Dan gue-pun memantapkan niat untuk menikah.

Setelah liburan berakhir, gue balik kerja ke Bogor dan nabung buat nikah. Hingga akhirnya emak gue dan keluarga mewakili gue untuk meminang istri atau istilahnya khitbah di bulan maret. Sejak saat itu, istri gue mulai nge-chat. Dan membicarakan hal terkait pernikahan karena dipaksa emaknya. Gue juga sempet nanya istri "Are you ready to start from zero?". Dan istri menyanggupi bahwa kami akan memulai lembaran baru dari nol, dengan tempat yang baru dan tanpa keluarga dekat. Persiapan pun dimulai ketika covid 19 melanda Indonesia karena  banyak batasan dari pemerintah untuk tidak melakukan interaksi selama wabah covid 19. Sempat kepikiran untuk menikah melalui video call karena memang penerbangan banyak di cancel bahkan bandara ditutup buat sementara, yaa siapa tau bisa ngirit biaya pernikahan. Jadi keluarga pada saat itu berharap bahkan ketika pandemi sekalipun, pesta harus tetap diadakan karena itu adalah momen yang sakral.

Singkat cerita pada bulan oktober, mertua gue tiba tiba nelpon dan menginginkan agar pernikahan dipercepat tanpa menunggu istri menyelesaikan S2 nya di Universitas Riau dikarenakan restriksi terhadap aktivitas di luar kampus yang menyebabkan istri sulit menyelesaikan S2-nya menemui beberapa dosen untuk menyelesaikan Thesisnya. Terkejut dong pastinya, but gue stay cool aja, jika memang itu yang terbaik, why not karena kita ga tau nih, pandemi ini mau sampai kapan berakhir. Akhirnya persiapan pernikahanpun mulai disegerakan. Pembicaraan tetang tema, baju, biaya dan konsep pernikahanpun dimulai. Tentunya wajar ada perbedaan konsep baik itu tentang pernikahan, kesederhanaan, dan budaya karena latar belakang kami berdua memang berbeda. Menyatukan dua hal yang berbeda ini merupakan sebuah lika liku kehidupan. Masalah dan perbedaan konsep adalah sesuatu yang pasti dan menjadi bumbu kehidupan. Peran gue adalah bagaimana mengatasi masalah tersebut dengan benar. Bahkan di rumah tangga sekalipun, gue juga harus mempersiapkan dan memprediksi masalah apa yang mungkin akan muncul dan bagaimana menghadapinya. Kalau gue pakai kata-kata Mufti Menk, bahwa ujian sudah dipersiapkan atau didesign oleh Tuhan untuk kita. Yang Allah ingin tahu adalah "How do we react to our problem?". Intinya bagaimana kita mengatasinya, apakah sesuai dengan perintah-Nya atau tidak. Dan kita juga harus berhusnuzon bahwa apapun yang Tuhan berikan kepada kita adalah yang terbaik setelah proses istikharah yang kita lakukan atas cobaan tersebut.

Alhamdulillah, akhirnya pada tanggal 26 Desember 2020, gue dan istri resmi menikah di Pekanbaru. 

Setelah menikah, istri cerita ke gue kalau selama umroh, dia nyebut nama gue untuk dijadikan suami ketika berdoa di depan Ka'bah. Eh beneran, Allah ngabulin doa dia untuk dapat jodoh yang terbaik diatara pelamar lainnya. 😁


Tuesday, June 7, 2022

Awaken Spirit of Mine

It has been a while since Corona hit us hard. I have not been writing since then. Now I am trying my best to post because my friend Pak Madjolehan Sukadi asked me to write again. Before starting to write again, I have a confession to make. Many mistakes I did back then, but it won't stop me to spread the goodness and things that can motivate, enlighten, and inspire others. From now on, I will write about anything that crosses my mind. These writings will not be limited to certain topics or themes. I will write about me, books, science, politics, finance, motivation, or even religion, so please don't be confused on what my writings are focusing.


I have learned a lot these couple years about many things that I cannot mention here in detail, but the point is I am happy to this point having and accepting what I have. I phave played game a lot lately, especially chess. I can play it for more than 24 hours without sleeping at all cause playing that game gets me awake to compete with other chess players from all over the world. Normally I played chess in chess.com or lichess.org.

These couple days, I try to control myself not to play the game. I wrote some kind of resolution about what I want to achieve these upcoming days. Personally, I find it useful and it mentally helps me a lot to stay alert about what I am going to do. I do believe that I am not the only person whose having difficulties in controlling my mind to do valuable things. It takes really good effort to keep me alert doing good things.


PS:

Here I use picture from https://pixabay.com/ because it contains many free images that we can use even for commercial purposes.

Monday, January 27, 2020

Amerika Mempersenjatai Teroris

Ini bukanlah rahasia umum bahwa Amerika mempersenjatai terroris untuk kepentingan mereka dan merusak kondisi suatu negara. Salah seorang kandidat presisden Amerika 2020 yang bernama Tulsi Gabbard mencanangkan Rancangan Undang Undang untuk menghentikan persenjataan, pelatihan dan support untuk para terroris seperti ISIS dan Al-qaeda. Nama RUU tersebut adalah "HR 608" yang berisi tentang pemberhentian support terhadap terrorist yang sedang mereka persenjatai, danai dan mereka latih seperti ISIS dan Alqaeda yang berada di Syiria dan di Iraq.


Kongress Amerika memang sangat unik, dari 435 anggota DPR mereka, hanya 14 Representatives yang setuju untuk menghentikan support dan persenjataan tersebut terhadap terroris dan mendukung HR 608. Banyak pengamat yang kecewa terhadap keputusan ini bahkan Kyle dari Secular Talk juga menyayangkan apa yang teelah diputuskan oleh anggota congress mereka.

Isi dari RUU tersebut adalah sebagai berikut:

Melarang Amerika Serikat untuk memberikan bantuan terhadap teroris (Alqaeda, ISIL/ISIS) dalam bentuk apapun. Dan RUU ini ditolak oleh lebih dari 90% anggota kongres Amerika Serikat. Tidak heran jika lobby politik Perusahaan senjata di Amerika sangat kuat dikarenakan keuntungan yang mereka dapatkan dari penjualan senjata. Semakin banyak konflik dan perang yang terjadi, maka semakin banyak keuntungan mereka. Sejauh ini Amerika mempersenjatai beberapa separatis di beberapa daerah seperti Iraq, Syria, dan Afganistan. Amerika juga menjual senjata kepada Arab Saudi untuk membombardir Yaman yang menyebabkan 14 juta rakyat Yaman mengalami kelaparan.

sama halnya dengan NRA yang melobi para politisi Amerika untuk melegalkan kepemilikan senjata secara gila gilaan. Banyak warga Amerika yang menjadi korban karena kebijakan ini. Tiap tahun sekitar 30.000 warga Amerika tewas disebabkan kebijakan ini, baik melalui school shooting, homicide, mass shooting dan lain lain.

Video wawancara ini juga menjelaskan bagaimana Amerika Serikat diam diam mensupport teroris.


Sumber:
https://www.congress.gov/bill/115th-congress/house-bill/608
https://www.nbcnews.com/news/world/14-million-people-yemen-face-imminent-great-big-famine-n923756
https://www.amnestyusa.org/issues/gun-violence/?gclid=EAIaIQobChMI77LG2sKl5wIVAx4rCh2yWAGEEAAYASAAEgJugfD_BwE

Sunday, January 26, 2020

Phimosis atau Fimosis

Tadi malam saya membaca salah satu komik komedi yang saya sukai yang berjudul "School Rumble"chapter 14. Dalam salah satu dalam komik tersebut membahas tentang Phimosis. Dan saat ini saya tertarik untuk menbahasa apa itu Phimosis.

Ini contoh kasus fimosis yang terjadi pada anak yang bisa menyebabkan berbagai penyakit lain pada pencernaan dan pola makan anak dikarenakan tidak nyaman pada bagian penis yang sulit dibersihkan.

@maminyaiel feeling seorang ibu emang ga pernah salah 🥺 tapi Tuhan emang baik banget. dikasih tau lebih cepat supaya sakitnya ga berlarut² 🥺❤️ #fyp #bayitiktok #fimosisanak #fimosisbaby ♬ suara asli - sadvibes🥀 - Sadvibes🥀
@dsriratuistiqomah13_ Bagi yg punya baby/anak laki-laki mungkin kalian ada yg mengalami hal yg sama. dan Alhamdulillahnya anakku kuat bun, dia tidak demam panjang, tdk rewel, makan mau, susu mau, tp ya kasiannya bgtu klo gak di pempes dia selalu pengen garukin tarikin mr.p nya, krn saluran kemih yg menempel yg membuat gatal dan tdk lancar saat buang air kencing. so' jd buat pengalaman aku klo nnti punya anak cwo lg bun. sehat sehat semuanyaa.. Aamiin #fimosis #fimosisanak #fimosisbaby #babysehat #babykuat #babysabar ♬ Buah Hati - Armada

Phimosis atau Fimosis merupakan kondisi yang terjadi pada bayi, anak-anak, dan bahkan orang dewasa yang disebabkan kulit kepala atau kulup penis belum terlepas secara sempurna dari kepala penis. Kulup akan terlepas dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak. Jangan mencoba untuk melepaskannya karena justru berisiko menimbulkan gangguan yang disebut parafimosis.

Gejala Fimosis

Fimosis pada anak yang belum disunat merupakan kondisi normal yang diakibatkan oleh menempelnya kulup ke kepala penis. Kulup penis anak akan merenggang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Kulup akan terlepas dengan sempurna umumnya pada usia 17 tahun.
Meskipun umumnya fimosis pada anak merupakan kondisi normal, terdapat kondisi yang perlu diwaspadai pada penis anak, yaitu ketika kulup yang sudah terlepas tetapi menempel kembali atau kepala penis mengalami peradangan (balanitis).
Fimosis yang terjadi pada orang dewasa juga merupakan kondisi tidak normal. Orang dewasa yang mengalami fimosis dapat merasakan sakit, perih, dan menurunnya hasrat seksual.

Kapan Harus ke Dokter

Fimosis merupakan kondisi yang normal bagi anak laki-laki yang belum disunat. Namun, fimosis berisiko menimbulkan balanitis yang dapat ditandai dengan gejala berikut:
  • Kepala penis terasa perih, serta tampak membengkak dan memerah.
  • Keluar cairan kental dari kulup.
  • Terbentuk garis putih di sekitar kepala penis yang menyerupai
  • Terdapat darah pada urine.
  • Rasa terbakar atau nyeri pada saat buang air kecil.
  • Nyeri panggul bagian bawah.
Cara penyembuhan atau pencegahan Fimosis yang terbaik adalah dengan disunat, atau bisa juga dengan cara berikut walaupun tidak menjamin untuk menyembuhkan dikarenakan sulitnya untuk menyembuhkan bagian dalam dari bagian penis.

Saya pribadi menyunat anak saya di Safubot Sentul ketika ia berumur delapan bulan. Awalnya istri menyarankan saya untuk menyunat anak ketika baru lahir di Pekanbaru, tapi saya ga tega. Sehingga setelah belajar lebih dalam tentang apa itu fimosis, saya menjadi aware tentang masalah kesehatan pada anak.


Your Comment (Facebook or Yahoo)