Di saat saya sedang berdiskusi dengan seorang teman, ia menyatakan bahwa penciptaan alam semesta dalam Al-qur'an tidak sesuai dengan sains karena memerlukan waktu dan proses untuk menciptakan seluruh alam semesta. Jadi penciptaan ini tidak secara instan terjadi dengan ucapan "Kun".
Memang benar bahwa dalam Al-Qur'an disebutkan ketika Tuhan menciptakan sesuatu firman-Nya, Kun fayakun (كُن فَيَكُونُ) yang dalam bahasa Indonesia artinya "Jadilah, maka terjadilah". Akan tetapi, menurut teman saya argumentasinya bahwa kerangka waktu Tuhan dalam Islam tidak logis karena seolah-olah ketika Tuhan berkata "Jadilah", sesuatu itu tercipta begitu saja tanpa melalui proses apa pun.
Maka saat itu, terjadilah diskusi yang cukup panjang tentang konsep proses dan waktu dalam perspekif manusia dan Tuhan. Saya juga mulai mencari ayat-ayat terkait time framing dalam Al-Qur'an. Apalagi Al-Qur'an mengatakan bahwa Tuhan menciptakan seluruh alam semesta dalam 6 hari. Ayat ini juga menggambarkan ada proses yang terjadi ketika Tuhan menciptakan alam semesta.
Dalam beberapa penjelasan disebutkan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dalam 6 masa. Kata yang digunakan adalah أَيَّامٍ (ayyam) yang kalau kita terjemahkan bisa berarti "beberapa hari" atau "beberapa masa/periode". Yang perlu digarisbawahi: kata "ayyam" adalah bentuk jamak dari "yaum" (يَوْم). Dalam Al-Qur'an, "yaum" tidak pernah didefinisikan secara absolut sebagai 24 jam. Sebaliknya, Al-Qur'an memberikan setidaknya tiga definisi "yaum" yang berbeda tergantung konteks: (1) satu hari biasa (siang-malam), (2) 1.000 tahun manusia (QS. As-Sajdah 32:5), (3) 50.000 tahun manusia (QS. Al-Ma'arij 70:4). Inilah bukti bahwa "yaum" adalah satuan waktu yang relatif, bukan absolut.
Jadi yang diperdebatkan adalah konsep "Hari" dalam Alqur'an. Sebagaimana yang tertera pada surat QS Hud: 7
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ
"Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari," (QS Hud: 7).
Definisi satu hari dalam kamus bahasa Indonesia adalah waktu dari pagi sampai pagi lagi (yaitu satu edaran bumi pada sumbunya, 24 jam) atau satu kali rotasi bumi pada porosnya. Tetapi definisi ini hanya berlaku jika matahari dan bumi sudah ada. Pada saat penciptaan langit dan bumi, bagaimana mungkin ada "hari" yang diukur dengan rotasi bumi, sementara bumi itu sendiri sedang dalam proses diciptakan? Inilah sebabnya para mufasir klasik seperti Ibnu Katsir dan Al-Thabari menafsirkan "enam ayyam" di sini sebagai enam periode atau fase penciptaan, bukan enam rotasi bumi.
Sedangkan dalam Alquran, hari memiliki definisi yang berbeda tergantung konteks ayat dan kisah yang tertera dalam Al-qur'an. Sebagai contoh, pada surat Al-Ma'arij ayat 4 yang juga mengisahkan tentang berapa lama ibril naik menghadap kepada Allah.
تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهٗ خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ ٤
Para malaikat dan Rūḥ (Jibril) naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun. (Q.S. Al-Ma'arij: 4).
Catatan penting: Ayat ini menunjukkan bahwa "yaum" (sehari) bagi malaikat dan "yaum" bagi manusia memiliki durasi yang sangat berbeda. Ini membuktikan bahwa waktu tidaklah absolut, tetapi relatif terhadap kecepatan dan kerangka acuan pengamat, sebuah konsep yang baru dikenal dalam fisika modern melalui Teori Relativitas Einstein.
Berarti dalam kisah ini, kita mendapatkan definisi baru dari kata يَوْمٍ yang berarti satu hari sama dengan ukuran lima puluh ribu tahun lamanya jika menggunakan perspectif orang-orang yang tinggal di bumi.
Dalam Al-Quran, terdapat beberapa ayat yang memberikan gambaran tentang konsep waktu dalam perspektif Islam. Berikut adalah beberapa ayat yang berkaitan dengan konsep waktu:
Dalam Surat Al-Furqan ayat 62, Allah berfirman:
وَهُوَ ٱلَّذِى جَعَلَ ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
Artinya: Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.
Ayat ini mengajarkan bahwa pergantian malam dan siang (yang membentuk konsep "satu hari" versi manusia) adalah ciptaan Allah. Maka konsep "hari" dalam pengertian manusia bersifat lokal dan tidak mengikat Allah.
Dalam ayat diatas, bisa kita simpulkan bahwa dalam konteks waktu satu hari dan satu malam, Allah lah yang menciptakan konsep waktu tersebut, sehingga kita bisa merangkum bahwa Allah yang menciptakan waktu tersebut dan Allah jelas tidak terikat dan diatur oleh waktu.
Terlebih lagi, dalam Surat Albaqoroh ayat 225, ditegaskan bahwa
"Sesungguhnya Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Maha hidup, kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. Al-Baqarah: 255)
Ayat ini menggambarkan bahwa Allah adalah Maha Hidup, kekal, dan tidak terbatas oleh waktu. Allah mengetahui segala sesuatu yang terjadi di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dan ayat ini menegaskan bahwa Allah bersifat Hayy (Maha Hidup) dan Qayyum (Maha Berdiri Sendiri). Artinya, Allah tidak membutuhkan waktu sebagaimana makhluk membutuhkannya. Waktu adalah ciptaan-Nya, bukan atribut-Nya.
Dan lagi dalam surat QS. Ar-Ra'd: 2
"Dia menjadikan matahari dan bulan itu beredar (mengikuti orbitnya) dengan ketentuan (yang pasti). Setiap benda beredar menurut takdir yang ditentukan." (QS. Ar-Ra'd: 2)
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menetapkan ketentuan dan takdir bagi setiap benda dan pergerakan di alam semesta, termasuk matahari, bulan, dan benda-benda langit lainnya. Semua hal tersebut berherak atas izin Allah.
Kesimpulannya adalah, Jika Allah yang menetapkan orbit dan kecepatan benda langit, maka Dialah juga yang menetapkan satuan "hari" yang terukur oleh rotasi bumi. Tentu Allah tidak terikat dengan satuan yang Dia ciptakan sendiri.
اِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran /qadar(dan takaran)." (QS. Al-Qamar: 49)
Kata "qadar" (ukuran) di sini mencakup ukuran waktu. Setiap proses penciptaan memiliki ukuran waktu tertentu yang ditetapkan Allah, baik itu instan (dalam persepsi manusia) maupun miliaran tahun. Ayat ini mengisyaratkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan dan ukuran yang telah ditentukan-Nya.
Konsep waktu dalam Al-Quran menekankan bahwa Allah adalah Pencipta yang Maha Esa dan Maha Mengetahui tentang segala sesuatu. Allah berada di luar dimensi waktu yang kita alami sebagai manusia, dan Dia memiliki kendali penuh atas segala sesuatu yang terjadi dalam alam semesta.
Kembali ke perdebatan awal dengan teman saya. Ia berargumen bahwa karena Al-Qur'an menyebut penciptaan dalam 6 hari, dan "hari" berarti 24 jam, maka penciptaan tidak mungkin memerlukan waktu miliaran tahun seperti yang dikatakan sains. Jawabannya:
"Yaum" dan "ayyam" dalam Al-Qur'an tidak pernah didefinisikan sebagai 24 jam secara mutlak. Buktinya: satu yaum bisa = 1.000 tahun atau 50.000 tahun dalam ayat yang sama.
Pada saat penciptaan, belum ada matahari dan bumi yang berotasi, sehingga mustahil "hari" diukur dengan cara yang kita pahami sekarang.
"Kun fayakun" tidak berarti instan tanpa proses, melainkan perintah untuk memulai proses menuju keberadaan, sebagaimana ditunjukkan dalam QS. Fussilat yang merinci tahapan penciptaan.
Waktu adalah relatif, tergantung kerangka acuan. Ini sudah dibuktikan secara ilmiah oleh Einstein dan justru memperkuat firman Allah dalam QS. Al-Ma'arij: satu yaum bagi malaikat sama dengan 50.000 tahun bagi manusia.
Jadi, tidak ada kontradiksi antara Al-Qur'an dan sains. Al-Qur'an berbicara tentang periode-perode penciptaan (6 ayyam = 6 fase/era), sedangkan sains berbicara tentang durasi waktu dalam hitungan tahun manusia. Keduanya bisa benar karena menggunakan kerangka waktu yang berbeda.
| Konteks | Arti "Yaum" | Contoh Ayat |
|---|---|---|
| Kehidupan manusia sehari-hari | Satu siklus siang-malam (24 jam) | QS. Al-Furqan 25:62 |
| Waktu bagi Allah vs manusia | 1 yaum = 1.000 tahun manusia | QS. As-Sajdah 32:5 |
| Perjalanan malaikat ke langit | 1 yaum = 50.000 tahun manusia | QS. Al-Ma'arij 70:4 |
| Penciptaan alam semesta | Satu periode/fase (durasi tidak ditentukan) | QS. Hud 11:7, Fussilat 41:9-12 |
| Hari Kiamat | Satu periode dahsyat (bukan durasi harfiah) | QS. Al-Hajj 22:47 |
Harap dicatat bahwa ini adalah pemahaman umum tentang konsep waktu dalam Al-Quran. Studi mendalam dan kajian ulama dapat memberikan pemahaman yang lebih rinci dan komprehensif tentang konsep waktu dalam Islam.
Daftar Pustaka
Garuda Kemdikbud. (t.th.). Alam Semesta Menurut Al-Quran. [online] Tersedia di: http://download.garuda.kemdikbud.go.id/
Republika Online. (2022). Tafsir Surat Hud Ayat 7 tentang Penciptaan Langit, Bumi dan Arasy. [online] Tersedia di: https://islamdigest.republika.co.id/
Republika Online. (2023). Apakah Alam adalah Makhluk Allah yang Lama atau Baru Setelah Manusia? [online] Tersedia di: https://islamdigest.republika.co.id/
SINDOnews Kalam. (2022). *Maurice Bucaille Kupas 6 Periode Penciptaan Alam Menurut Al-Quran*. [online] Tersedia di: https://kalam.sindonews.com/
Okezone Muslim. (t.th.). *Tafsir QS. As-Sajdah Ayat 5*. [online] Tersedia di: https://muslim.okezone.com/alquran/tafsir/
Republika Online (IQRA). (t.th.). *Al-Qur'an Surat Al-Ma'arij Ayat 4 (Terjemahan Indonesia)*. [online] Tersedia di: https://iqra.republika.co.id/alquran/ayat/70/4/
Detik.com. (2022). Surah As Sajdah Ayat 5: Tingginya Arsy yang Berjarak Tempuh Ribuan Tahun. [online] Tersedia di: https://www.detik.com/edu/detikpedia/
Jurnal UIN Alauddin Makassar (Jurnal Tafsere). (2025). Analisis Waktu dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sains. Nadia Salsabil & Indah Norma Yanti. Vol. 12(2). [online] Tersedia di: https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/tafsere/
Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). (t.th.). *Naskah Publikasi - Analisis Perbandingan Penafsiran QS. Al-Hajj Ayat 47, QS. As-Sajdah Ayat 5, dan QS. Al-Ma'arij Ayat 4 Menurut Hamka dan Quraish Shihab*. [online] Tersedia di: https://eprints.ums.ac.id/
Jurnal Paradigma (Hamjahdiha). (t.th.). Konsep Waktu dalam Al-Qur'an: Analisis Semantik Kata Ayyām. [online] Tersedia di: https://ejournal.hamjahdiha.org/
No comments :
Post a Comment
Jangan lupa komentarnya yaaah ;D
Bisa juga comment as Anonymous(Tanpa nama), jika tidak ada akun atau blog. Bisa juga mengomentari dengan Akun Facebook di kolom paling bawah :)