Thursday, June 4, 2015

When do We Use Gerunds or To Infinitive ?

We use gerunds (verb + ing):
  • After certain verbs - I enjoy singing
  • After prepositions - I drank a cup of coffee before leaving
  • As the subject or object of a sentence - Swimming is good exercise

Here are some of the most common verbs that are usually followed by the gerund:
enjoyI enjoyed living in France
fancyI fancy seeing a film tonight
discussWe discussed going on holiday together
dislikeI dislike waiting for buses
finishWe've finished preparing for the meeting
mindI don't mind coming early
suggestHe suggested staying at the Grand Hotel
recommendThey recommended meeting earlier
keepHe kept working, although he felt ill
avoidShe avoided talking to her boss

We use 'to' + infinitive:
  • After certain verbs - We decided to leave
  • After many adjectives - It's difficult to get up early
  • To show purpose - I came to London to study English
We use the bare infinitive (the infinitive without 'to'):
  • After modal verbs - I can meet you at six o'clock
  • After 'let', 'make' and (sometimes) 'help' - The teacher let us leave early
  • After some verbs of perception (see, watch, hear, notice, feel, sense) - I watched her walk away
  • After expressions with 'why' - why go out the night before an exam?
And here are some common verbs followed by 'to' and the infinitive:
agreeShe agreed to give a presentation at the meeting
ask*I asked to leave early / I asked him to leave early
decideWe decided to go out for dinner
help*He helped to clean the kitchen / he helped his flatmate to clean the kitchen
planShe plans to buy a new flat next year
hopeI hope to pass the exam
learnThey are learning to sing
want*I want to come to the party / I want him to come to the party
would like*I would like to see her tonight / I would like you to see her tonight
promiseWe promised not to be late
*We can use an object before the infinitive with these verbs.
Source:
http://www.perfect-english-grammar.com/gerunds-and-infinitives-verbs-1.html

Friday, May 15, 2015

Benda Pusaka Riau yang Berjalan

Nilai-nilai budaya pada kurikulum pendidikan Riau sangat perlu ditanamkan agar generasi berikut kelak cinta, bangga dan memiliki keinginan untuk melestarikan budaya yang kita miliki. Sangat menarik bahwa "Riau Heritage" peduli dengan bagaimana pelestarian budaya lokal agar tetap diingat karena tidak bisa dipungkiri bahwa banyak generasi masa kini tidak terlalu peduli dengan bagaimana budaya Riau kelak, padahal budaya adalah identitas dari suatu masyarakat. Saya merasa bahwa dalam hal ini khususnya berkenaan dengan penanaman nilai-nilai budaya di Riau, masih dirasa memiliki dukungan yang belum signifikan dari pemerintah.

Background admin sendiri adalah sebagai pengajar bahasa. Ketika melihat kata benda, admin berfikir dalam konteks bahasa, bahwa Benda adalah segala yg ada di alam yg berwujud atau berjasad. Hal yang dibahas kali ini adalah benda yang memiliki kaitan erat dengan budaya yang merupakan ciri khas suatu daerah atau suatu tempat.

Dari pada membahas tentang budaya, atau benda pusaka yang merupakan hasil dari pada budaya, admin lebih tertarik berbicara tentang manusia yang akan membangun budaya dan manusia yang kelak akan menghilangkan budaya itu sendiri. Tahun 2012 lalu, ketika admin melakukan perjalanan ke jepang, masih terngiang difikiran admin tentang bagaimana budaya Jepang yang cukup kental melekat pada orang jepang itu sendiri. Admin yang waktu itu cukup kebingungan dengan lika liku sign di jepang, bertanya pada information desk yang tentunya bisa menjelaskan bagaimana rute daerah jepang dalam bahasa inggris. Ketika diakhir percakapan dan merasa puas dengan keterangan information desk, admin mengucapkan "Thank You". Respon yang admin dapatkan dari information desk tersebut adalah kata "arigatou gozaimaz" sambil membungkukkan badan. Mungkin ini hanya secuil nilai budaya yang ditunjukkan oleh information desk tersebut, tapi hal ini membuat admin berfikir, kenapa dia tidak menjawabnya dalam bahasa inggris saja, padahal dia bisa melakukannya. Inilah yang membuat admin berfikir bahwa orang jepang bangga akan budayanya. Mereka menjunjung tinggi budaya yang melekat pada mereka. Walaupun mereka tidak percaya terhadap budaya yang mereka lakukan, tetapi mereka tetap melakukannya. Itulah keunikan dari jepang yang bisa membangun karakter yang bangga akan budaya dan identitas negara mereka.

Rasa bangga terhadap budaya sendiri, tidak  tercipta dengan sendirinya. Hal tersebut didukung oleh banyak faktor. Faktor kepedulian masyarakat dan termasuk faktor dukungan pemerintah. Ketika kita menganggap bahwa budaya adalah suatu yang penting, hal ini akan menjadi hal yang penting, tapi ketika kita tidak mengganggapnya demikian, maka hal tersebut menjadi tidak penting. Lomba yang diadakan oleh Riau Heritage ini merupakan salah satu cara jalan untuk membuat orang riau peduli dan mencari tahu tentang budaya Riau dan segala hal yang berkaitan dengan Riau.

Adalah suatu kewajaran apabila anak muda sekarang lebih menyukai budaya barat dibandingkan dengan budaya kita sendiri. Di daerah kita sendiri, kita kalah saing dengan perkembangan budaya yang ada. Budaya barat bahkan telah mempengaruhi anak muda pada umumnya dengan berbagai macam industri budaya mereka seperti musik, olahraga, fastfood, mode pakaian, film-film barat dan bahasa. Untuk mengungguli mereka tentunya kita harus melakukan usaha yang lebih massive lagi dibandingkan mereka. Tak heran jika kita bisa banyak menemukan anak muda yang lebih bangga memakai kostum ala barat atau Yukata/Kimono dari jepang dibandingkan dengan kostum tradisional daerah Riau.

Keris Melayu Riau Luk 5 Gembol
Salah Satu Benda Pusaka Riau
Segala hal ini juga tidak lepas dari pada peranan media, yang membangun karakter penontonnya sehingga mereka bangga bahwa apa yang mereka kenakan atau konsumsi adalah benda familiar, yang orang lain bisa lihat dilayar mereka baik itu Televisi, Internet ataupun media portable lainnya. Sedangkan benda pusaka atau hal yang berkaitan dengan Riau pada saat ini, adalah benda yang tidak terlalu familiar dan jarang terlihat dan tampak. Jika hal ini terus berlanjut, maka budaya yang ada di Riau hanya akan tinggal nama. Tak heran jika di Singapura, yang notabene tanah melayu tapi budaya melayu di singapura, seperti ayam mati dalam di lumbung padi, karena tidak dipupuk tentang nilai-nilai budaya. Menyalahkan pemerintah, media atau orang lain memang bukanlah solusi. Semoga tulisan admin mendapat perhatian dari para pembaca, bukan hanya sebagai bagian dari lomba, tetapi juga sebagai pengingat bagi yang lain untuk tetap melestarikan budaya dan identitas kita. Ini merupakan tugas kita bersama sebagai Benda Pusaka Riau yang Berjalan untuk memotivasi pemerintah dan orang sekitar kita, agar budaya kita tetap ada dan terjaga sebagai identitas kita, budaya melayu Riau.


Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Blog : Bulan Pusaka Pekanbaru 2015



==============
Sumber:
1. http://kbbi.web.id/benda
2. http://pengundisetiasungairapat.blogspot.com/2012/11/ramai-warga-melayu-singapura-menitis.html
3. http://tinyurl.com/or8k2p4
4. http://tinyurl.com/p3wrswr

5. http://www.riauheritage.org/

Thursday, May 14, 2015

Admin Perusak Budaya Melayu, Benarkah?

Hari ini admin ditanyai dengan pertanyaan"Ahmad, asal kamu dari mana?". Bagi admin, jawaban ini cukup simple dan admin dengan santai menjawab "asal pekanbaru kak". Hanya saja pertanyaan yang dimaksud kakak tersebut dengan kata "asal", bukan menanyakan dari daerah mana admin berasal, tapi dari daerah mana orang tua admin berasal. 

Admin dengan santai menjawab bahwa admin orang pekanbaru, karena Pekanbaru lah tempat admin dilahirkan dan ditambah lagi dalam kehidupan sehari-hari admin hanya menggunakan bahasa Indonesia. Di dalam keluarga, admin tidak diajarkan untuk berbahasa daerah. Hal ini memang cukup berbeda dengan background keluarga seperti penyanya admin yang mungkin di dalam keluarganya memakai bahasa daerah.

Kejadian seperti ini bisa salah dan benar tergantung sudut pandang yang kita gunakan. Bagi kakak yang bertanya pada admin. Jawaban yang admin berikan jelas salah, karena kakak tersebut bangga dengan budayanya yang bersuku minang. Dan dia menasehati admin bahwa jangan malu mengatakan melayu jika ditanyai dari mana admin berasal. Dari sudut padang pengamat budaya, mungkin jawaban admin terkesan salah, karena memang admin tidak terlalu dibesarkan dengan pengaruh budaya yang kental di dalam keluarga.

Sebenarnya ini bukanlah pertama kali terjadi. Ketika admin kursus di LIA, salah seorang instruktur mengatakan bahwa admin adalah "pemusnah budaya", karena tidak terbiasa atau bahkan tak pernah berkomunikasi dengan menggunakan bahasa melayu. Admin menerima apa yang orang lain katakan tentang admin, karena memang begitulah adanya bahwa admin tidak menggunakan bahasa melayu untuk berkomunikasi.

Tapi, jika apa yang admin alami dilihat secara kontekstual dan secara menyeluruh tentang kehidupan admin dan keluarga, mungkin bagi orang yang menganggap jawaban admin sebagai suatu kesalahan, bisa merubah fikiran mereka tentang kesalahan dan kebenaran yang di-judge berdasarkan sudut pandang tertentu. 

Ayah dan Ibu admin merupakan orang yang menurut admin cukup sibuk. Kedua orang tua admin berkerja dari pagi bahkan malampun dihiasi dengan tugas yang menumpuk di ruangan mereka. Admin masih ingat bahwa ketika masih SD, seringkali kedua orang tua admin tidak bisa mengambil raport dan seringkali telat. Dan jam makan siang dan malampun berbeda, sulit ditemukan waktu dimana kami bisa makan bersama dalam suatu tempat dan ditambah lagi logat melayu daratan dan kepulauan yang cukup berbeda, membuat orang tua admin hanya memakai bahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan anak-anaknya yang keren dan imut ini. :D Jadi menurut admin, cukup wajar apabila admin menggunakan bahasa Indonesia dan ditambah lagi, teman sepermainan admin juga menggunakan bahasa Indonesia. Jadi, admin memang sangat terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dibandingkan bahasa lain.

Dalam suatu acara buka bersama di rumah, admin pernah dianggap kurang sopan bagi calon suami adik admin karena admin mulai makan ketika ayah admin belum memulai makan dan sedang melakukan sholat sunnah. Menurut sudut pandang admin, ini adalah hal yang biasa karena memang sehari-hari admin dan keluarga makan dengan tanpa didahului oleh ayah admin, tapi ini merupakan suatu ketidak sopanan dari sudut padang orang lain. Bagaimanapun sesuatu bisa salah dan benar tergantung dari cara kita melihat atau sudut pandang yang kita gunakan.

Dari pada dikategorikan sebagai Perusak Budaya, Admin lebih cocok disebut sebagai korban dari asimilasi kompleksitas budaya dengan pola kehidupan kota yang sekarang sedang mengarah kearah individualisme. 

Wednesday, January 21, 2015

English Zone Pekanbaru

English Zone community Pekanbaru adalah salah satu tempat terbaik buat kamu yang mau bealajar bahasa inggris. Pengalaman admin pribadi, admin sudah pernah kursus dibeberapa tempat kursus di Pekanbaru dan admin bisa pastikan bahwa English Zone Pekanbaru yang terbaik.

Alasan kenapa English Zone menjadi tempat kursus terbaik di Pekanbaru adalah:

1. Kamu langsung berinteraksi dengan Native Speaker (American, Australian, Bristish, Canadian), non native speaker (Ducth, German, South African, Singaporean, Phillipine, Italy) dan juga Senior English Zone yang tidak kalah keren dan imut.

2. Tersedia program "Pronunciation Lab" yang mana kamu diberikan waktu selama 15 menit untuk face to face dan berinteraksi dalam satu ruangan dengan Native Speaker. Program ini merupakan salah sat program unggulan dari English Zone.

3. Akan ada banyak tamu yang datang dari berbagai macam belahan dunia yang akan datang ke English Zone untuk sharing pengalaman, budaya, makanan dan kehidupan mereka di luar negeri.

4. Setiap dua minggu sekali akan diadakan "Special Event" dengan berbagai acara yang didesain agar kamu lebih mengenal bagaimana kehidupan di luar negeri.

5. Setiap seminggu sekali akan ada program "Public Speaking" yang melatih kamu untuk mengasah kemampuan bahasa inggris kamu ke level yang lebih extreme lagi.

6. Hapir setiap hari kamu harus mengikuti yang namanya "Discussion Group" yang berfungsi untuk melatih kemampuan berbahasa kamu yang langsung dipimpin sama Native Speaker (Australian, American, Bristish).

7. Sistem berlajar di English Zone sangat fleksible dan innovative. Sistem pembelejarannya lebih ke practical dari pada theoritical. Kamu tidak harus membawa buku dan pena. Kamu hanya perlu langsung berkomunikasi dan berinteraksi dengan Native Speaker.


Mayoritas English Zone dihuni oleh Mahasiswa kece dari berbagai jurusan di Pekanbaru, khususnya UIR :D Di English Zone, Para Mahasiswa saling berbagi info tentang program nasional dan internasional. Dan banyak dari mereka yang sudah melangkahkan kaki mereka ke luar negeri.

Untuk lebih mengenal English Zone lebih jauh, let's see the following pictures:



English Zone Community Pekanbaru di bawah naungan sebuah lembaga yang bernama Yayasan Pendar Pagi Riau. Lembagai ini menjadi wadah bagi bersbagai macam project kemanusiaan dan hal-hal yang berkaitan dengan social, kesehatan termasuk juga pendidikan. 


Curcol dulu nih, :D Admin pertama kali masuk English Zone awal tahun 2011. Pertama kali masuk ketemu sama Miss Ima dengan bahasa inggrisnya yang masya Allah takjub terdiam dan Admin cuma bisa bilang "Yes" :D Kalo rumus energi E=em2 yang mana energi membutuhkan massa, yang ada difikiran admin cuma massa bodoh yang penting belajar bahasa inggris. Energi untuk mau belajar bahasa inggris seakan melimpah kemudian bertambah dan bertambah seperti batu karang yang tetap kokoh walau diterjang ombak. Beberapa minggu pertama sulit ngomong kadang cuma diam. Kemudian coba untuk bicara biar disangka briliant ho ho, trus yang ada malah gemetaran. Suara ga karuan dan berbagai macam perasaan berkecamuk.  Ok, lanjut ke gambar berikutnya:


Ini adalah tampilan English Zone dari luar. Zoom...


Bagi yang mau tau alamatnya, nih admin kasih link google.map nya DI SINI :)
Jalan Melur Panam, Pekanbaru Blok E No. 1




Kemudian ini adalah parkiran English Zone


Ruang Tamu


Tempat ngumpul EZ-ers.


Ruang Pronunciation Lab. Ini adalah ruangan dimana members EZ diberikan waktu 15 menit untuk berdua saja belajar bersama Native Speakers. :)


Ruang Diskusi dengan Native Speakers dan Beginner Level




Berikut adalah Native Speaker yang ada di EZ dan yang pernah di EZ:
1. Matthew













2. Stephanie













3. Merry











4. Miss Katja













5. Damaris













6. Chris and Naomi













7. Liana













8. Kak Deb











9. Mr. Will












Masih banyak lagi info tentang English Zone, Insya Allah nanti akan di update lagi :)
It's not complete yet, There will be more information that will be updated.
Here is English Zone on Facebook, Click Here

Thursday, January 15, 2015

Ahmad calon Socialpreneur

Akhir-akhir ini admin iseng nyari berbgai macam event dan kompetisi internasional, siapa tau ada dewa juri yang kepincut sama jurus maut CV dan berbagai pengalaman admin. Admin sedang apply untuk San Diego University yang bertemakan "Unity in Diversity". Nah yang menarik adalah socialpreneur di form 8 yang mengharuskan admin buat mempelajari apa itu socialpreneur. Admn berpendapat rata-rata sih yang namanya dunia entrepreneurship ujung ujungnya duit. Cuma memana kalau socialpreneur ini cukup berbeda, karena dari niat mendirikan usaha adalah didasari dari kebutuhan masyarakat sekitar untuk membantu sesama. Namanya juga usaha, siapa sih yang mau rugi? :D

Menurut admin socialpreneur ini mah bedanya cuma dikit aja, yaitu terletak diniatnya. Asal katanya jelas social yang bermakna kemasyarakatan dan entrepreneurship bermakna kewirausahaan. Secara terminologi jelas bahwa socialpreneurship lebih cenderung kepada usaha yang lebih peduli kemasyarakat. Biasa social preneur memiliki program tertentu untuk lingkungan sosialnya. Dalam form yang disediakan untuk admin, Admin merasa butuh ide. Socialpreneur macam apa yang bisa admin propose untuk acara tersebut yang tentunya tidak berlawanan dengan background admin yang notabenenya adalah pendidikan.

Setelah searching beberapa hari, akhirnya admin mendapatkan berita yang bisa admin jadikan ide cemerlang yang juga mungkin suatu hari admin bisa mendidirikan socialpreneur serupa. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca berita berikut.



Berawal dari Scrabble 

Dirikan Kursus Bahasa Kursus Bahasa Inggris Just Speak selintas seperti tempat kursus bahasa Inggris biasa. Tetapi, siapa sangka, Kursus Just Speak ini dikelola oleh mahasiswa. Seluruh tenaga pengajarnya pun mahasiswa. Baru didirikan 3 November lalu, saat ini jumlah peserta kursusnya sudah mencapai 60 orang. Laporan Wartawan Radar Lampung PEMUDA bertubuh kurus itu bernama Fadlan Satria (21). 

Saat ditemui Radar Lampung di kantornya di Jl. Danau Maninjau 39, Surabaya, Kedaton, Bandarlampung, Fadlan tengah bersantai. ’’Aktivitas di tempat kursus ini memang malam. Maklum, semua pengajarnya masih kuliah. Jadi kalau siang pada ke kampus semua,” kata dia. Fadlan tak menyangka kursus yang didirikannya berhasil menggaet peserta sampai 60 orang. 

Menurut dia, dengan kondisi yang masih terbatas, Kursus Just Speak punya potensi untuk bisa dikembangkan lagi. ’’Peserta kursus dikhususkan mahasiswa dan pelajar saja. Karena kan targetnya ini untuk membantu peserta mendapat beasiswa ke luar negeri. Misalnya kalau untuk pertukaran pelajar,” tuturnya. Biaya kursus yang dibebankan ke siswa sekitar Rp500 ribu. Ada lima level dalam kursus ini. Seluruhnya difokuskan ke speaking. “Ini memang untuk melatih agar fasih berbahasa inggris,” katanya. 

Saat ini, kursus Just Speak digawangi oleh sedikitnya lima orang mentor. Seluruh mentor masih berstatus mahasiswa. Menurut Fadlan, ide awal membuat kursus datang dari dirinya. Ia merasa miris karena setiap beasiswa keluar negeri dari berbagai lembaga mayoritas dikuasai mahasiswa dari pulau Jawa. Kuota tersisa sekitar 30 persen barulah dibagi ke luar pulau jawa. 

“Kalau keluar negeri kan harus aktif bahasa inggrisnya,” kata dia. Karena itulah ia tergerak untuk membuat kursus ini. Sebenarnya, menurut dia, kursus Just Speak berlandaskan konsep socialpreneur. Artinya, mengedepankan kepentingan sosial. Dan bukan melulu mencari untung. Bermodalkan tiga ruangan masing-masing sekitar 3x2 meter di rumahnya, ia lalu membuka kursus. Tiga ruang itu diperuntukkan ruang administrasi, pelatihan dan ruang tamu. Ketertarikan Fadlan dengan bahasa inggris juga sudah berlangsung lama. Fadlan dikenal karena hobi bermain scrabble. Permainan ini merupakan permainan menyusun kata dari bahasa inggris. Bahkan ia sempat mengharumkan nama Lampung dalam setiap ajang lomba srcabble. 

Hampir 100 ajang scrabble nasional dan internasional diikutinya. Hasilnya, ia pernah juara ditingkat nasional 17 kali dan internasional sebanyak 3 kali. Fadlan punya cita-cita peserta kursusnya kelak akan bisa menularkan ilmunya ke mahasiswa atau pelajar lain. Sehingga, mahasiswa dan pelajar Lampung tak lagi kesulitan jika hendak mencari beasiswa ke luar negeri. Sebab, salah satu modal dasarnya yakni berbahasa inggris sudah berhasil dikuasai. 

“Konsepnya, nanti mereka akan kita suruh untuk mengajar ataupun mengisi materi ke sekolah-sekolah atau pelatihan secara rutin agar bisa memberikan ilmu dan kemampuan bahasa inggris di tempat lain di Lampung,”ujar anak pertama dari dua bersaudara ini. (p5/c1/wdi)


Sumber: Klik Disini

Tuesday, December 30, 2014

Si Admin yang belajar Azan

Ntah pikiran apa yang merasuk. Terlintas niat admin yang kece ini mau Azan. Admin baru baca hadist baru baru ini bahwa orang yang mengumandangkan azan akan diringankan sisksanya di hari kiamat. Berhubung Admin banyak dosanya dan pengen tobat. Makanya mau belajar Azan. Rencananya malam ini mau nginap di musholla teman yang kebetulan jadi Gharim dsono. Kalau ga salah Musholanya di jalan Kapau Sari. Dulunya udah pernah nanya sama beberapa temen yang kebetulan tinggal di mushola. Sebut saja namanya Sugiono. Eh.., dia malah bilang tempatnya sempit. Abisnya Admin mau nginap gitu. Ya.. udah, ga jadi deh :)

Mau curhat dulu nih, dulu admin sebenarnya pernah ikutan lomba azan di MDA. itu udah lama banget. Udah sejak zaman nabi adam. Kepedean Admin yang melimpah pada saat itu seakan sirna. Sempet dapet juara 2 :D ho ho... Sekarang Admin harus belajar mulai dari dasar. Pitch control, nada suara dan mekanisme azan yang bener harus di-design se-kece mungkin. Biar yang dengerin tertakik buat sholat ke mesjid.


Langsung aja nih lafaz Azan
























Nih Youtubenya bagi yang mau dengerin Azan dan latihan :)




By. CyberStudent ;)

Tuesday, November 5, 2013

Pentingnya Passport!!!

Kini saya merasakan betapa pentingnya kegunaan passport sebagai key of success. Dulu saya tidak melihat hal ini sebagai suatu yang penting. Setelah sekian lama akhirnya saya sadar betapa pentingnya ini. Kini saya dan teman-temanpun rajin untuk hunting tiket murah dan share ke group jika salah seorang dari kami mendapatkan info tiket murah. Kami bahkan merencanakan untuk backpacking yang merembes kepada konferensi, scholarship atau event international, mencari pengalaman ke luar negeri dan berbagi pengalaman dengan teman-teman yang lain bagaimana indah dan menyenangkannya dunia luar. Ada beberapa dari kami yang harus mengeluarkan kantong sendiri untuk itu dan ada juga yang berusaha keras memutar otak dan mencari sponsor untuk mendanai mereka. Sehingga kami tidak menjadi katak dalam tempurung yang hanya tahu bagaimana dunia kami dan tak tahu bagaimana dunia luar. Semoga dengan membaca artikel dibawah bisa membuka wawasan kita semua :)

PASSPORT Oleh Rhenald Kasali [Jawapos, 8 Agustus 2011] Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki passport. Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan. Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam. Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas. Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal. 

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus pasport. Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global.". Tanpa pasport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril. Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya pasport. 

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa pasport ini? Saya katakan, pergilah keluar negeri yang tak berbahasa Melayu. Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam. Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau. 

"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, pak?"
Saya katakan saya tidak tahu.

*Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. 

*Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. 

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom. 

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers. Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring. Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian keluar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu. 

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri. 

* The Next Convergence* 

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong. 

Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah keluar negeri sekalipun. Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki pasport.Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia. Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entekong memasuki Kuching. Dalam jarak tempuh sembilan jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKN yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan. Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini. Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang. Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan. Di universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki pasport dan melihat minimal satu negara. 

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide nya. Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi. Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar oleh dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif? Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani. Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut. Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya pasport itu 99% akhirnya dapat pergi keluar negeri. Sekali lagi, jangan tanya darimana uangnya. Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor dan mengedarkan kotak sumbangan. Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri. 

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini dipasportnya tertera satu dua cap imigrasi luar negeri. Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orangtuanya mampu membelikan mereka tiket? Tentu tidak. Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak PNS, bahkan tidak jarang mereka anak petani dan nelayan. Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing. Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka. 

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.

*Rhenald Kasali Guru Besar Universitas Indonesia *

Your Comment (Facebook or Yahoo)